Kontras Pasar Otomotif: Ekspansi Cicilan Mobil Konvensional, Mengapa EV Tertinggal 1 Persen?

Di tahun 2025, kontras pasar otomotif menjadi semakin jelas: di satu sisi, kita melihat ekspansi yang signifikan pada pembiayaan cicilan untuk mobil konvensional; di sisi lain, adopsi kendaraan listrik (EV) melalui skema pembiayaan masih sangat minim, hanya menyumbang sekitar 1% dari total. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan krusial tentang dinamika pasar, preferensi konsumen, dan hambatan adopsi teknologi hijau di era modern. Memahami disparitas ini sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan strategi industri ke depan.

Kontras pasar otomotif ini didukung oleh data terkini. Sebagai contoh, pada tanggal 10 April 2025, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit mobil dan motor bertenaga bensin/diesel mencapai 20% pada kuartal pertama tahun ini, didorong oleh beragam pilihan model dan harga yang lebih terjangkau. Bapak Sugeng Riyadi, Direktur Eksekutif APPI, dalam konferensi pers pada hari Rabu, 16 April 2025, pukul 11.00 WIB, menyatakan, “Segmen konvensional tetap menjadi tulang punggung pasar pembiayaan otomotif, menunjukkan permintaan yang stabil dari konsumen.”

Namun, di balik angka yang mengesankan tersebut, kontras pasar otomotif tampak mencolok pada sektor kendaraan listrik. Meskipun banyak produsen telah memperkenalkan model EV baru dan pemerintah gencar mengampanyekan transisi energi, pangsa pembiayaan EV masih sangat kecil. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 31 Mei 2025, menunjukkan bahwa pembiayaan kendaraan listrik hanya mencapai 1,1% dari total kredit otomotif. Ibu Siti Fatimah, Kepala Departemen Pengembangan Produk Keuangan OJK, dalam diskusi panel pada hari Jumat, 20 Juni 2025, pukul 14.00 WIB, menjelaskan bahwa “sebagian besar pembelian EV masih didominasi oleh korporasi atau pembelian tunai, sedangkan pembiayaan untuk individu masih minim.”

Beberapa faktor berkontribusi pada kontras pasar otomotif ini. Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi dibandingkan dengan mobil konvensional menjadi penghalang utama bagi konsumen ritel. Selain itu, kekhawatiran akan ketersediaan infrastruktur pengisian daya, masa pakai baterai, dan nilai jual kembali EV juga turut memengaruhi keputusan pembelian secara kredit. Lembaga pembiayaan pun cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit untuk EV karena pasar yang masih berkembang dan risiko yang belum sepenuhnya terpetakan.

Dengan demikian, untuk mendorong pertumbuhan EV di segmen ritel dan mengubah kontras pasar otomotif ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak. Pemerintah dapat memperluas insentif, produsen dapat menawarkan model yang lebih terjangkau, dan lembaga pembiayaan perlu mengembangkan skema kredit yang lebih menarik dan inovatif khusus untuk kendaraan listrik.