Di balik gemuruh mesin dan adrenalin tinggi di lintasan balap, terdapat sisi spiritual yang sangat dalam bagi para penggerak otomotif di Bumi Lancang Kuning. Tradisi Sowan Ulama menjadi agenda wajib yang rutin dilakukan oleh jajaran pimpinan komunitas ini. Kegiatan berkunjung dan memohon doa restu kepada para kiai serta tokoh agama bukan sekadar formalitas budaya, melainkan sebuah kebutuhan jiwa untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Di tengah tekanan tanggung jawab organisasi dan risiko tinggi dalam dunia balap, kedekatan dengan pemuka agama dianggap sebagai penawar rasa cemas sekaligus pengingat akan jati diri sebagai hamba Tuhan yang rendah hati.
Kegiatan ini berfokus pada upaya mendapatkan bimbingan spiritual yang menjadi Rahasia Ketenangan bagi para pengurus dalam menjalankan roda organisasi. Balap motor maupun mobil sering kali membawa ego yang tinggi dan emosi yang meluap-luap. Dengan berdialog langsung dengan para ulama, para pengurus diingatkan untuk tetap menjaga sportivitas, kejujuran, dan keselamatan di atas segalanya. Wejangan yang diberikan oleh para ulama sering kali menjadi kompas moral bagi mereka dalam mengambil keputusan penting, terutama yang berkaitan dengan keselamatan atlet dan ketertiban masyarakat. Ketenangan batin yang didapatkan dari kunjungan ini terbukti berdampak positif pada fokus dan performa mereka saat mengawal ajang-ajang besar.
Dalam setiap sesi kunjungan di wilayah Riau, interaksi yang terjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan. Para ulama memberikan pandangan bahwa setiap bidang pekerjaan, termasuk dunia Balap, bisa menjadi ladang ibadah jika diniatkan untuk kemaslahatan dan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Para pengurus belajar bahwa kecepatan di lintasan harus diimbangi dengan kesabaran dalam berpikir dan bertindak. Budaya sowan ini juga mempersempit jarak antara dunia otomotif yang modern dengan dunia pesantren atau lembaga keagamaan yang tradisional. Sinergi ini menciptakan dukungan moral yang luar biasa bagi perkembangan industri olahraga otomotif di Riau, di mana masyarakat merasa tenang karena hobi ini tetap berada di bawah pengawasan nilai-nilai agama.
Keterlibatan aktif para Pengurus IMI dalam menjaga hubungan dengan pemuka agama ini juga menjadi teladan bagi para pembalap muda. Mereka melihat bahwa tokoh-tokoh idola mereka tetap menaruh rasa hormat yang tinggi kepada para guru agama. Hal ini secara otomatis membentuk karakter atlet yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Di wilayah Riau yang kental dengan budaya Melayu yang religius, tradisi ini memperkuat dukungan publik terhadap kegiatan-kegiatan otomotif. Masyarakat melihat bahwa komunitas ini memiliki kontrol sosial yang kuat melalui kedekatannya dengan pusat-pusat spiritualitas di daerah tersebut.